Keindahan Motif Tenun Ikat Sikka dalam Kerajinan Jarum dan DIY
Tenun Ikat Nagekeo
Nagekeo adalah salah satu suku di Flores yang juga memiliki tradisi tenun ikat yang indah dengan motifnya.
Kain tenun ikat Nagekeo ditenun dengan benang-benang alami yang diperoleh dari tumbuhan lokal.
Adapun Pola-pola pada kain tenun ini mencerminkan cerita dan simbolisme budaya Nagekeo.
Kain tenun Nagekeo juga dikenal dengan warna-warna alaminya yang lembut dan nuansa yang tenang.
Kain tenun khas Flores merupakan warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Melalui kain tenun, masyarakat Flores menjaga identitas budaya mereka dan memperkuat ikatan sosial dalam komunitas mereka.
Kain-kain tenun ini bukan hanya sebagai pakaian, tetapi juga sebagai pernyataan keindahan seni dan kebanggaan akan tradisi mereka.
Bagi para pecinta seni dan budaya, mengenal dan mengapresiasi kain tenun khas Flores adalah cara yang baik untuk mendukung warisan budaya Indonesia.
Setiap potongan kain tenun memiliki cerita yang unik, dan memiliki kain tenun khas Flores adalah memiliki potongan kekayaan budaya yang luar biasa.
Rekomendasi Produk Kain Tenun Sikka
Tidak melulu berbentuk kain, kain Sikka juga banyak diproduksi menjadi barang kebutuhan sehari-hari, seperti berikut ini.
1. Tas Serut dari Kain Tenun Sikka
Tas serut yang terbuat dari kain Sikka ini mempunyai ukuran sekitar 30 x 20 x 5 cm. Jadi, kamu bisa memakai serut ini untuk membawa handphone, dompet, dan barang-barang lainnya saat sedang berpergian.
2. Sandal dari Kain Tenun Sikka
Kamu juga bisa bikin penampilan lebih stylish dengan sandal selop motif Sikka ini. Karena ringan dan cukup empuk, sandal selop ini dapat kamu padukan dengan gaya busana formal dan informal.
3. Kalung Lilit Sikka
Kain Sikka juga hadir dalam berbagai aksesori seperti kalung di bawah ini. Kalung lilit Sikka berukuran 20 x 5 x 5 cm ini terbuat dari bahan terbaik sehingga aman dan lembut di kulit. Selain itu, kalung ini juga awet dan aman untuk digunakan sehari-hari.
4. Anting Lilit Sikka
Selain kalung, ada pula anting lilit yang terbuat dari kain Sikka. Desain anting berukuran 10 x 5 x 2 cm ini cukup menarik sehingga bisa kamu pakai saat ke acara pesta dan berkumpul bersama teman serta kerabat.
Mengenal Kain Tenun Ikat Utan Welak dari Sikka yang Harganya Selangit
Proses pembuatan tenun ikat di Sikka biasanya diikat terlebih dahulu hingga pewarnaan. Sebagian besar sanggar tenun di wilayah ini masih mempertahankan penggunaan pewarna alami. Pewarna alami itu terbuat dari akar-akar pohon dan ada pula yang menggunakan dedaunan.
Diperbarui 09 Agu 2020, 07:00 WIB Diterbitkan 09 Agu 2020, 07:00 WIB
Liputan6.com, Sikka - Setiap daerah di Indonesia memiliki jenis tenun masing-masing, demikian juga dengan Kabupaten Sikka, NTT. Punya kemiripan dengan tenun NTT pada umumya, namun tenun ikat Sikka punya keunikan tersendiri.
Proses pembuatan tenun ikat di Sikka biasanya diikat terlebih dahulu hingga pewarnaan. Sebagian besar sanggar tenun di wilayah ini masih mempertahankan penggunaan pewarna alami. Pewarna alami itu terbuat dari akar-akar pohon dan ada pula yang menggunakan dedaunan.
Nilai dan sejarah Kain Tenun Palue
Ilustrasi seorang penenun dari Sikka, Nusa Tenggara Timur (Sumber gambar: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Tenun adat Palue merupakan seni yang diturunkan oleh nenek moyang Masyarakat Palue yang digunakan sebagai kain adat dan juga sumber mata pencaharian. Masyarakat pulau ini meyakini bahwa dalam menenun seorang penenun dilarang untuk mengeluarkan kata-kata kotor.
Dijelaskan oleh Natalia, motif yang diciptakan dalam kain menjadi informasi dan juga nilai dari tatanan hidup masyarakat Palue. Salah satu contoh motif yang memiliki nilai yang besar adalah motif gambar kaki ayam. Motif ini menunjukan budaya setempat yang menggunakan ayam sebagai hewan kurban ketika akan membuka sebuah kebun baru.
Tidak hanya itu, motif lain yang digunakan adalah motif kenari sebagai simbol kesuburan dari pulau Palue, motif busur yang menjadi simbol keperkasaan laki-laki Palue, motif kepiting, yang menggambarkan kehidupan kekal, serta motif segitiga yang memberi gambaran terkait gunung sebagai simbol yang tertinggi yakini Tuhan dan leluhur.
"Biasanya kami sebagai penenun sering menggunakan kekayaan alam yang ada di sekitar kami sebagai motifnya", tutur Natalia.
Terinspirasi dari letak geografisnya yang terletak di tengah lautan lepas, masyarakat Palue juga membuat motif dari kapal, motif lautan atau ombak, dan juga motif daratan. Motif-motif ini dijelaskan oleh natalia sebagai gambaran kehidupan baik sosial maupun keadaan alam di Pulau Palue.
Selain nilai dari motifnya, kain adat Palue juga menjadi salah satu faktor untuk menilai seorang perempuan. Hal ini dikarenakan, kain-kain tenun ini dibuat oleh perempuan Palue akan menjadi simbol kehormatan dari seorang wanita dengan menghasilkan tenunan sendiri.
Motif-Motif pada Kain Tenun Palue Terbaru
1. Mudhu atau Gunung
Motif mudhu merupakan simbol dari gunung Rokatenda, satu-satunya gunung berapi di Pulau Palue. Pada 2013, Gunung Rokatenda meletus yang membuat sebagian besar warga berbondong-bondong pindah dari pulau tersebut. Oleh karena peristiwa meletusnya Gunung Rokatenda tersebut, masyarakat mengabadikan momennya melalui motif kain tenun mudhu ini.
2. Watu No’o Tana atau Batu dan Tanah
Masih terinspirasi dari letusan Gunung Rokatenda, masyarakat menggunakan kerikil dan batu yang bertebaran sebagai simbol dari terpisah-pisahnya masyarakat saat itu dan kemudian membentuk berbagai kelompok di tempat pengungsian yang baru.
Salah satunya adalah para pengungsi Palue yang tinggal di Desa Hewuli, Maumere dan membentuk kelompok tenun yang dinamakan Mbola So atau Terima Kasih. Salah satu anggota yang tergabung dalam kelompok tenun Mbola So adalah Natalia.
3. Pou atau Perahu
Para penenun termasuk Natalia seringkali menggunakan motif pou atau perahu. Desain perahu diciptakan untuk mengingatkan kepada masyarakat saat proses mengungsi dari Palue menuju Desa Hewuli.
Selain itu, bagi masyarakat juga perahu digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan atau mencari sumber kehidupan lainnya. Simbol perahu juga dimaknai oleh para pengrajin untuk melambangkan ikat tenun dengan warna alam sebagai pegangan hidup para penenun.
4. Kunda atau Kalung Adat
Selain terinspirasi dari keadaan alam, para penenun juga menggunakan salah satu warisan budaya berupa kalung adat untuk dijadikan motif. Kunda merupakan benda sakral yang disimpan secara baik dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Kunda terbuat dari manik-manik yang disatukan menggunakan tali. Kunda menjadi simbol bagi para anggota kelompok tenun Mbola So yang terikat satu sama lainnya.
Tags: tenun gambar motif ikat