... Cara Mudah Membuat Ikat Kepala Tenun Lombok Sendiri | Panduan DIY

Ikat Kepala Tenun Lombok - Keindahan dan Kreativitas dalam Kerajinan Sulaman Tradisional

Material Kain Tenun Lombok

Motif Subahnale, salah satu motif favorit kain tenun Lombok. (Foto: Tribun)

Kain tenun Lombok terbuat dari bahan-bahan alami, yaitu kapas pilihan yang dipintal menjadi gulungan benang sebagai bahan utamanya. Pintalan benang tersebut diwarnai menggunakan bahan pewarna yang berasal dari dedaunan, akar-akaran, biji-bijian, kulit pohon, dan juga yang lainnya yang sifatnya alami dan berasal dari alam.

Misalnya saja, warna merah diambil dari sari biji pinang, akar mengkudu, kulit kayu, dan lainnya. Biru dari tanaman Indigofera tinctoria atau tanaman tarum. Sementara warna biru keabu-abuan dihasilkan dari tanaman suji dan daun mangga. Demikian selanjutnya hingga mendapatkan ragam warna yang lebih beragam.

Desa Penghasil Kain Tenun Lombok

Foto: Datu Lombok Tour

Saat jalan-jalan ke Lombok banyak orang mengincar untuk mendatangi pulau Gili untuk menyelam atau naik ke Gunung Rinjani. Lombok memang memiliki banyak destinasi alam yang luar biasa.

Tapi satu lagi yang tidak boleh Anda lewatkan adalah mampir ke Desa Sade dan Desa Sukarara, dua desa terbaik penghasil kain tenun Lombok. Kedua desa ini juga disebut sebagai rumah bagi Suku Sasak, suku asli pulau Lombok. Jarak Desa Sade sendiri hanya 5 kilometer dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, nih, Bunda.

Pakaian Adat Suku Sasak

Itulah sekilas tentang adat Lombok yang perlu diketahui. Setiap suku dan budaya, tentu memiliki pakaian adat masing-masing dengan keunikan yang dimiliki. Begitupun dengan Suku Sasak di Lombok. Tenun dan songket tak pernah lepas dari budaya masyarakat Suku Sasak. Jika kamu penasaran dengan budaya di Lombok, yuk ketahui pakaian adat Lombok!

1. Pegon untuk Laki-Laki

Pakaian adat Suku Sasak Lombok untuk laki-laki, dikenal dengan nama Pegon. Baju adat ini merupakan hasil adaptasi antara budaya Jawa dan Eropa yang kemudian dibawa ke wilayah Nusa Tenggara Barat. Pegon sering digunakan saat upacara adat besar, sehingga disebut juga sebagai sebuah kebesaran dan keagungan bagi masyarakat Suku Sasak.

Inilah komponen pakaian adat bagi laki-laki Suku Sasak :

  • Sapuq : Ikat kepala yang terbuat dari songket khas Lombok. Sapuq menjadi pelindung kepala yang menutupi bagian ubun-ubun. Motif sapuq dan songket yang menjadi bawahan harus sama. Penggunaan sapuq dimaksudkan untuk menjaga pikiran dari hal-hal yang tidak baik.
  • Leang : Kain yang menutupi bagian luar pakaian. Leang biasanya dipasangkan dengan kain yang dipakai di bagian dalam, atau biasa disebut slewoq. Kain ini terbuat dari songket yang pada bagian depan dibentuk dengan pola khas Suku Sasak, bagian ujungnya dibiarkan menjulur ke bawah sebagai simbol kerendahan hati.
  • Selepan : Senjata tajam yang di selipkan ke dalam leang.
  • Pegon : Jas khas Suku Sasak yang menutupi bagian punggung. Kemudian di bagian depan dikancingkan secara penuh, kecuali kancing paling bawah. Menandakan keagungan seorang pria dan kesopanan terhadap sesame.
  • Slewoq : Kain yang diikat pada bagian pinggang dan digulung seperti sarung. Bagian ujungnya dibuat melancip dan terlipat seperti kipas.

Pakaian Adat Suku Bayan

Tenun Bayan adalah nama dari pakaian adat masyarakat Bayan. Kain tenun yang digunakan merupakan kain tenun asli buatan masyarakat setempat, yang biasa disebut dengan kain sesekan. Nah, kain sesekan ini terdapat bermacam-macam jenisnya sesuai dengan penggunaannya.

Misalnya kain tenun Londong Abang, kain ini biasanya dipakai oleh Kyai Adat Bayan, wanita Bayan yang berasal dari keluarga bangsawan, dan keturunan Kyai Adat Bayan.

Kain Londong Abang ini memiliki motif ornamen garis berwarna hitam dan kuning dengan warna dasar merah muda. Selain itu, masih banyak lagi jenis-jenis kain sesekan lainnya dengan total kurang lebih 13 jenis kain. Suku ini biasanya menggunakan pakaian adat saat melaksanakan upacara-upacara adat.

Pada kaum wanita menggunakan Jong sebagai penutup kepala, Londong Abang sebagai kain, Rejasa sebagai ikat pinggang, dan Sampur Rujak Belimbing sebagai selendang. Sedangkan pada kaum pria, mereka menggunakan Sapuk sebagai ikat kepala, Londong Abang sebagai kain, Rejasa sebagai ikat pinggang, dan Kombong Abang sebagai selendangnya.

Sampai saat ini masyarakat Bayan masih menggunakan Tenun Bayan saat melaksanakan upacara adat. Bahkan komoditas penenun Bayan sampai sekarang masih aktif memproduksi kain sesekan ini.

Budaya Pernikahan Suku Sasak

Bicara soal budaya, Lombok dikenal dengan suku Sasak sebagai suku asli dari Pulau 1000 Masjid ini. Mayoritas masyarakat Suku Sasak beragama Islam, tetapi uniknya, ada beberapa praktik keagamaan yang berbeda dengan ajaran Islam pada umumnya. Itu karena Suku Sasak masih memegang teguh adat istiadat secara turun-temurun.

Adat Suku Sasak yang paling mudah ditemukan adalah saat menjelang resepsi perkawinan. Dimana jika perempuan mau dinikahkan, maka harus mengikuti prosesi “kawin lari” atau “kawin culik”. Perempuan akan diculik oleh pihak lelaki selama beberapa hari, dengan catatan gadis tersebut harus sudah siap untuk dinikahkan oleh pihak lelaki.

Budaya kawin culik ini selalu dilakukan sampai saat ini, terutama bagi masyarakat asli Sasak yang tinggal di Desa Sasak Sade, Kabupaten Lombok Tengah. Di sini pihak lelaki tidak bisa sembarangan menculik, karena tetap ada aturan yang perlu ditepati. Lelaki yang akan meminang harus membawa beberapa kerabat sebagai saksi.

Selepas melakukan penculikan terhadap gadis yang akan dipinang, selanjutnya rombongan pria melakukan prosesi ‘nyelabar’ yang jumlahnya terdiri dari 5 orang, dan wajib mengenakan pakaian adat. Prosesi ini dilakukan untuk memberitahukan kepada keluarga perempuan bahwa anak gadisnya sedang diculik di suatu tempat untuk dinikahkan. Budaya yang unik bukan?


Tags: tenun ikat lombok

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia