... Cara Mudah Membuat Ikat Kepala Tenun Lombok Sendiri | Panduan DIY

Ikat Kepala Tenun Lombok - Keindahan dan Kreativitas dalam Kerajinan Sulaman Tradisional

Pakaian Adat Suku Bayan

Tenun Bayan adalah nama dari pakaian adat masyarakat Bayan. Kain tenun yang digunakan merupakan kain tenun asli buatan masyarakat setempat, yang biasa disebut dengan kain sesekan. Nah, kain sesekan ini terdapat bermacam-macam jenisnya sesuai dengan penggunaannya.

Misalnya kain tenun Londong Abang, kain ini biasanya dipakai oleh Kyai Adat Bayan, wanita Bayan yang berasal dari keluarga bangsawan, dan keturunan Kyai Adat Bayan.

Kain Londong Abang ini memiliki motif ornamen garis berwarna hitam dan kuning dengan warna dasar merah muda. Selain itu, masih banyak lagi jenis-jenis kain sesekan lainnya dengan total kurang lebih 13 jenis kain. Suku ini biasanya menggunakan pakaian adat saat melaksanakan upacara-upacara adat.

Pada kaum wanita menggunakan Jong sebagai penutup kepala, Londong Abang sebagai kain, Rejasa sebagai ikat pinggang, dan Sampur Rujak Belimbing sebagai selendang. Sedangkan pada kaum pria, mereka menggunakan Sapuk sebagai ikat kepala, Londong Abang sebagai kain, Rejasa sebagai ikat pinggang, dan Kombong Abang sebagai selendangnya.

Sampai saat ini masyarakat Bayan masih menggunakan Tenun Bayan saat melaksanakan upacara adat. Bahkan komoditas penenun Bayan sampai sekarang masih aktif memproduksi kain sesekan ini.

Mengenal Lebih Dalam Mengenai Suku Bayan : Pusat Budaya Lombok Tertua

Pulau Lombok merupakan salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Pulau yang berada di Kepulauan Nusa Tenggara Barat, dan terletak sebelah timur Pulau Bali ini terkenal dengan jajaran pantainya yang begitu indah. Namun, selain memiliki kekayaan alam yang indah, Lombok juga kaya akan suku budaya yang masih ada sampai saat ini loh, salah satunya adalah Suku Bayan.

Suku Bayan ini merupakan pusat budaya Lombok yang tertua, dan terletak di Kabupaten Lombok Utara. Suku ini masih melestarikan adat istiadat dari nenek moyangnya, baik dari struktur bangunan rumah, pakaian sehari-hari, sampai berbagai upacara adat masih mereka pertahankan hingga saat ini. Meskipun demikian, hal tersebut tidak membuat Suku Bayan menutup diri dari dunia luar.

Jika Anda berkunjung ke Pulau Lombok, Anda bisa mampir ke daerah Lombok Utara, Kecamatan Bayan, tempat Suku Bayan berada. Anda bisa menambah informasi dan belajar mengenai warisan budaya nenek moyang disana.

Pakaian Adat Suku Sasak

Itulah sekilas tentang adat Lombok yang perlu diketahui. Setiap suku dan budaya, tentu memiliki pakaian adat masing-masing dengan keunikan yang dimiliki. Begitupun dengan Suku Sasak di Lombok. Tenun dan songket tak pernah lepas dari budaya masyarakat Suku Sasak. Jika kamu penasaran dengan budaya di Lombok, yuk ketahui pakaian adat Lombok!

1. Pegon untuk Laki-Laki

Pakaian adat Suku Sasak Lombok untuk laki-laki, dikenal dengan nama Pegon. Baju adat ini merupakan hasil adaptasi antara budaya Jawa dan Eropa yang kemudian dibawa ke wilayah Nusa Tenggara Barat. Pegon sering digunakan saat upacara adat besar, sehingga disebut juga sebagai sebuah kebesaran dan keagungan bagi masyarakat Suku Sasak.

Inilah komponen pakaian adat bagi laki-laki Suku Sasak :

  • Sapuq : Ikat kepala yang terbuat dari songket khas Lombok. Sapuq menjadi pelindung kepala yang menutupi bagian ubun-ubun. Motif sapuq dan songket yang menjadi bawahan harus sama. Penggunaan sapuq dimaksudkan untuk menjaga pikiran dari hal-hal yang tidak baik.
  • Leang : Kain yang menutupi bagian luar pakaian. Leang biasanya dipasangkan dengan kain yang dipakai di bagian dalam, atau biasa disebut slewoq. Kain ini terbuat dari songket yang pada bagian depan dibentuk dengan pola khas Suku Sasak, bagian ujungnya dibiarkan menjulur ke bawah sebagai simbol kerendahan hati.
  • Selepan : Senjata tajam yang di selipkan ke dalam leang.
  • Pegon : Jas khas Suku Sasak yang menutupi bagian punggung. Kemudian di bagian depan dikancingkan secara penuh, kecuali kancing paling bawah. Menandakan keagungan seorang pria dan kesopanan terhadap sesame.
  • Slewoq : Kain yang diikat pada bagian pinggang dan digulung seperti sarung. Bagian ujungnya dibuat melancip dan terlipat seperti kipas.

Tari Suling Dewa

Sama halnya dengan budaya dari suku-suku yang lain, suku yang satu ini juga memiliki tarian adat tradisional yang biasa disebut Tari Suling Dewa. Tarian ini biasanya dilakukan saat musim kemarau panjang dengan tujuan untuk meminta hujan.

Tarian ini dilakukan oleh 2 pasang penari pria dan Wanita, satu pemain suling, dan satu orang pembaca hikayat. Pembacaan hikayat ini diyakini sebagai media permohonan turunnya hujan ke bumi. Dalam tarian ini disiapkan juga sesaji yang berupa kembang, makanan, dan kapur sirih.

Tari Suling Dewa ini merupakan tarian adat yang sakral, oleh sebab itu tarian ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang di etnis Bayan. Tarian ini hanya bisa dilakukan oleh pimpinan tokoh adat ataupun sesepuh desa. Suling yang dipakai pun harus menggunakan suling yang dikeramatkan secara turun temurun.

Sampai saat ini, Tari Suling Dewa juga masih dilakukan oleh masyarakat Bayan. Namun kini tidak hanya digunakan sebagai tarian meminta hujan, masyarakat Bayan juga menggunakan Tari Suling Dewa untuk menyambut tamu penting ataupun upacara kenegaraan.

Tentang Suku Sasak di Lombok

Saat berlibur ke Lombok, kamu akan mudah menemukan masyarakat asli Suku Sasak di Desa Sasak Sade. Desa ini berada di Lombok Tengah dan jaraknya tidak terlalu jauh dari Bandara Internasional Lombok, mengarah ke Kuta Mandalika. Di Desa Sasak Sade bukan hanya bisa melihat langsung budaya dan adat Suku Sasak, melainkan kamu bisa belajar banyak hal tentang Sasak Lombok.

Desa Sasak Sade sangat terbuka terhadap turis baik itu lokal maupun mancanegara. Berkunjung ke desa ini, kamu dapat mengetahui lebih dalam tentang budaya Sasak yang tak pernah berhenti dilestarikan dan dipromosikan sebagai budaya asli di Indonesia.

Perempuan asli Suku Sasak wajib bisa membuat tenun. Mereka sudah diajarkan untuk menenun sejak masih anak-anak. Bagi perempuan Sasak, belum boleh menikah jika belum bisa membuat tenun. Itu mengapa tradisi tenun dari Lombok, khususnya Desa Sasak Sade masih terus dilestarikan. Mereka tak segan untuk memperkenalkan tenun khas Lombok kepada wisatawan.

Ketika mengeksplor Desa Sasak Sade, kamu bisa melihat langsung bagaimana proses pembuatan tenun mulai dari tenun selendang, sampai songket. Bagi wisatawan, bisa juga mencoba belajar membuat tenun yang akan dipandu langsung oleh penenun asli Suku Sasak. Proses pembuatan tenun mulai dari 1 minggu sampai 1 bulan tergantung tingkat kesulitan dari tenun itu sendiri.

Uniknya lagi, setiap wisatawan diizinkan untuk memakai baju adat Lombok sebagai properti untuk berfoto. Bagi laki-laki, akan dibantu untuk menggunakan Pegon, dan bagi perempuan dibantu untuk menggunakan Lambung. Dengan begitu, kamu bisa lebih memahami proses pemakaian baju adat dari Suku Sasak.

Sudah tidak mengherankan mengapa Lombok sangat menarik untuk dikunjungi. Terlebih jika kamu suka wisata budaya. Lombok adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Mengenal budaya Sasak dan menggunakan pakaian adatnya, merupakan bentuk penghormatan terhadap budaya yang sudah ada sejak dulu. Yuk, wisata ke Desa Sasak Sade, dan pakai pakaian adat Suku Sasak!


Tags: tenun ikat lombok

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia