... Teknik Sulam Terkenal di Indonesia: Pada Abad Keberapa Mereka Muncul?

Teknik Sulam yang Terkenal di Indonesia - Karya Seni Jarum yang Memikat dari Abad Mana?

Perkembangan Mahayana

Aliran Buddha Mahayana diduga datang di antara abad 1 SM hingga 1 M, istilah Mahayana ditemukan di Sutra Saddharma Pundarika. Aliran Mahayana baru dikenal secara jelas pada kira – kira abad ke 2 M, ketika ajaran Mahayana dijelaskan dalam tulisan – tulisan.

Perkembangan ajaran Mahayana di Indonesia pada umumnya terbagi atas dua yaitu Buddha Mahayana dan Buddha Tridharma. Buddha Mahayana merupakan perpaduan sekte Zendan sekte Sukhavati (unsur ke-Tiongkokannya masih kuat).

Buddha Tridharma (Buddha Kelenteng)yang ada di Indonesia adalah perpaduan Buddha Mahayana dengan Taoisme dan Konghucu (Konfusianisme), yaitu budaya Tionghoa tradisi Dao Jiao, Run Jiao, dan budaya lokal. Di mana pengembangnya antara lain Kwee Tek Hoay, Khoe Soe Khiam, Ong Kie Tjay, dan Aggi Tje Tje.

Pada tahun 1978, Bhikkhu-bhikkhu dari aliran Mahayana membentuk Sangha Mahayana Indonesia yang diketuai oleh Bhikkhu Dharmasagaro. Sangha Mahayana Indonesia inilah yang mencetuskan ide pembangunan Pusdikiat Buddha Mahayana Indonesia.

Cita-cita Sangha adalah menyebarluaskan ajaran Buddha Mahayana di Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia serta menerjemahkan kitab-kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa Indonesia.

Ringkasan Sejarah Pantomim di Dunia

Pantomim diyakini semula berkembang dari Italia abad 16. Seni pementasan pantomim yang berkembang di Italia itu memperoleh pengaruh dari tradisi pertunjukan komedi di zaman Yunani kuno.

Dikutip dari History, pantomim lahir lewat sebuah komedi jalanan bernama Commedia dell'Arte yang dipentaskan pada era Renaisans. pertunjukan tersebut menampilkan komedi slapstik yang membuat penonton tertawa terbahak-bahak.

Uniknya, bahkan tanpa satu patah katapun yang diucapkan pemain, para penonton bisa memahami maksud dan jalan cerita. Penonton juga bisa mengidentifikasi berbagai karakter yang terlibat dalam seni jalanan tersebut.

1. Sejarah perkembangan pantomim di Italia dan Prancis

Pertunjukan Commedia dell'Arte semakin berkembang usai mereka memutuskan untuk melakukan tur keliling Italia dan Prancis. Mereka banyak berpentas di berbagai pekan raya, festival, dan jalanan sehingga mencapai popularitasnya.

Karakter terkenal dari Commedia dell'Arte adalah badut Pierrot yang ikonik. Selain Pierrot ada juga karakter lelaki tua Pantalone, pelayan bernama Arlecchino, dan seorang gadis bernama Columbine.

Dalam beberapa versi kisah, ada satu lagi karakter bernama Punchinello. Karakter ini menjadi cikal bakal boneka dan tokoh dongeng Mr. Punch yang populer di Eropa.

Popularitas pantomim di Italia dan Prancis nyatanya mendulang kesuksesan besar di abad ke-16.

2. Sejarah perkembangan pantomim di Inggris

Memasuki akhir abad ke-17, seni pertunjukan pantomim mulai dipentaskan di Inggris. Meskipun sejarah mencatat pantomim sudah masuk di Inggris sejak abad ke-17, tetapi kepopulerannya baru berlangsung pada awal abad ke-18.

Pantomim menjadi seni pertunjukan yang tidak hanya dinikmati oleh masyarakat kelas bawah, tetapi juga kalangan bangsawan, termasuk Ratu Elizabeth. Bahkan, pantomim memperoleh sebutannya, yakni pantomime dari masyarakat Inggris pada 1717.

Hasil [ sunting | sunting sumber ]

Selendang bersulam termasuk pakaian adat yang dipakai oleh seorang perempuan Koto Gadang. Pemakaian motif, warna, dan bahan selendang yang digunakan disesuaikan dengan status dan usia wanita yang memakai. Untuk wanita muda, biasanya wama yang dipakai adalah warna terang seperti merah dan motifnya agak rapat sehingga bahan dasar kain terlihat sedikit saja. Adapun bagi wanita yang sudah bekeluarga, kain yang digunakan yakni berwarna tua seperti nila atau hijau dan motif yang agak jarang. [36] [2]

Menurut penelitian Ernatip dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang, masyarakat Koto Gadang saat ini banyak menekuni sulaman dan menjadikannya sebagai suatu pekerjaan yang menghasilkan uang. Selendang bersulaman Koto Gadang termasuk sulaman yang sangat halus dan rapi bila dibandingkan dengan sulaman daerah lain sehingga harga selendang bersulaman Koto Gadang relatif lebih mahal. [37] [12] Pada saat ini, selendang sulaman suji caia dijual seharga Rp2.000.000 sampai Rp2.500.000 per helai, sedangkan selendang sulaman kapalo samek dijual dengan harga Rp1.750.000 hingga Rp2.250.000 per helai. [12] [7] Namun, karena dikerjakan oleh tenaga manusia, pengerjaan sulaman Koto Gadang membutuhkan waktu yang lama. Untuk satu helai kain sulaman Koto Gadang membutuhkan waktu penyelesaian setidaknya dua bulan. [a]

Selendang sulaman Koto Gadang sudah terkenal sampai ke mancanegara. Pengenalan selendang sulaman Koto Gadang ke dunia luar terus dilakukan, terutama oleh pengrajin itu sendiri. Berbagai pameran baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional ikut menampilkan selendang sulaman Koto Gadang sebagai produk kerajinan unggulan. [38] [7] [37] Dikenalnya sulaman Koto Gadang oleh masyarakat luas secara tidak langsung memberi peluang bagi pengrajin sulam untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak. [39]

Dalam gelaran Festival Sulam Bordir di Jakarta pada 2012, ditampilkan karya selendang sulam sepanjang 20 meter yang menggunakan berbagai jenis teknik sulam dari Sumatera Barat, termasuk sulam suji caia dan kepalo samek dari Koto Gadang. Selendang tersebut mendapatkan penghargaan sebagai sulam terpanjang di dunia dari Museum Rekor Indonesia (MURI). [40] [41]

Sulam Maduaro

Hasil teknik sulam maduaro. (Pemkab Tulang Bawang).

Sulam maduaro merupakan teknik sulaman kain asal Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Hasil sulaman ini diimplementasikan di atas kain ini berupa selendang, yang peruntukkan penutup bagi kaum perempuan Menggala.

Namun saat ini, sulam maduaro sudah dibuat motifnya pada baju gamis, kopiah, baju koko, kaligrafi, serta sebagai upaya pelestarian motif kainnya. Sulaman maduaro pada kain juga biasa digunakan dalam upacara sakral, semisal upacara adat Menggala.

Sulaman maduaro pernah menjadi satu dari lima kabupaten/kota dan provinsi se-Indonesia pernah mendapatkan penghargaan Dekranas Award 2013, dalam kategori kriya tekstil, di Jakarta Convention Center (JCC) 2013 silam.

Sulaman Sepanjang Sejarah Dimulai pada Zaman Perunggu

Pada abad ke-5/ke-6 M, ketika Mesir adalah bagian dari Kekaisaran Bizantium, tunik lebar yang meriah pada periode itu dihiasi dengan roundel dan panel. Sebagian besar strip dekoratif dengan desain kelautan dan pastoral ini ditenun dengan teknik yang serupa dengan tenun Jacquard. Namun beberapa roundel bertahan dalam tusuk belah, tusuk tikam jejak, dan sulam rantai.

Seperti contoh Zaman Kegelapan yang lebih akhir di mana jahitan garis digunakan untuk mengisi bentuk, garis besar gambar dijahit terlebih dahulu, dengan sulaman yang berlanjut dalam spiral ke dalam hingga bagiannya terisi.

Sulaman abad ke-10 dari Mammen di Denmark menggunakan tusuk tikam jejak dan sulam herringbone untuk gambar binatang dan pita yang menggambarkan daun acanthus dan wajah manusia. Meskipun jahitan-jahitan tersebut terlalu terpisah untuk diketahui dengan pasti, jahitan-jahitan itu mungkin menghiasi jubah atau tunik.

Juga temukan bagaimana Anda bisa memulai menyulam.

Membuat Kerajinan Emas pada Zaman Kegelapan

Meskipun emas mungkin dimasukkan ke dalam pakaian pada masa yang jauh lebih awal, salah satu penggunaan sulaman emas paling awal yang dikonfirmasi berasal dari makam Ratu Merovingian, Arnegunde, dari abad ke-6 SM. Pakaian luarnya memiliki manset sulaman emas dalam desain roset.

Sebuah fragmen kecil dari akhir abad ke-8 dan ke-9 dari Maaseik, Belgia menggunakan pelapis permukaan untuk benang emas dan tusuk belah di latar belakangnya – pendahulu Opus Anglicanum pada periode abad pertengahan.

Stole dan meniple St. Cuthbert menggunakan tusuk tikam jejak untuk garis luarnya dan lagi-lagi, tusuk belah untuk mengisi gambarnya. Benang emas untuk latar belakangnya ditahan di tempat dengan couching sederhana.


Tags: sulam teknik pada indonesia

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia